MAGELANG – Ketua Umum Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) Indonesia Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet memberikan apresiasi berlangsubgnya puncak acara kegiatan Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) 2026 yang berlangsung di komplek Cabdi Borobudur Magelang, Minggu ( 26/7/2026 ).
Para peserta yang jumlahnya mencapai 2.045 tersebut dengan penuh khidmat mengikukuti setiap prosesi kegiatan di Taman Lumbini, kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Kegiatan tahunan ini diselenggarakan oleh Sangha Theravada Indonesia (STI) bekerja sama dengan Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI), dengan melibatkan para bhikkhu dari berbagai negara, samanera, atthasilani, serta upasaka-upasika yang menjalankan Atthasila.
Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet ditengah-tengah mengikuti kegiatan tersebut mengatakan bahwa pembacaan Kitab Suci Tipitaka tidak hanya menjadi bagian dari tradisi keagamaan, tetapi juga bertujuan menanamkan nilai-nilai luhur yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan keagamaan memiliki peran penting dalam membangun karakter, memperkuat kepedulian sosial, dan menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.” katanya.
Menurutnya pembangunan fisik yang nampak secara nyata di depan mata tentu lambat laun akan rapuh kalau tidak ditopang dengan karakter yang sangat baik.
“Kita percaya bahwa melalui Indonesia Tipitaka Chanting ini sebagai upaya untuk memberikan dan membangun jati diri umat Buddha di Indonesia,” ujarnya.
Ida Pangelingsir juga menekankan bahwa kehidupan beragama dan kehidupan berbangsa tidak dapat dipisahkan.
“Keduanya harus berjalan beriringan sehingga umat beragama dapat menjalankan keyakinannya dengan baik sekaligus menjadi warga negara yang memiliki tanggung jawab terhadap bangsa.” katanya.
Dikatajan bagwa setiap orang menyadari sebagai umat beragama dan sebagai warga negara memiliki sebuah mandat yang sangat luhur yang harus kita jalankan agar kita bisa menjadi umat yang betul-betul taat menjalankan agamanya dan sekaligus juga menjadi warga negara yang cinta tanah air dan bertanggung jawab.
“Bahwa pemahaman agama yang semakin mendalam sepantasnya melahirkan sikap saling menghormati dan kasih sayang kepada sesama, termasuk kepada mereka yang memiliki perbedaan keyakinan.”kata Ida Pangelingsir.
Ketya FKUB Kabupaten Klaten KH.Syamsuddin Asyrofi yang turut gadir di acara ITC di komplek Candi Borobudur tersebut mengatakan bahwa semakin dalam seseorang memahami agamanya, maka sesungguhnya mereka akan semakin luas mempunyai rasa kasih sayang dan rasa hormat kepada mereka yang berbeda keyakinannya.
“Pelantunan Kitab Suci Tipitaka menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman sekaligus menghayati ajaran Buddha agar dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
“Harapannya, setelah ITC ini setiap peserta bisa merenungkan dan mengubah cara berfikir dan bertindak agar umat Buddha menjadikan Kitab Suci Tipitaka sebagai patokan, ukuran, keyakinan dan praktek kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Itulah urgensi dilaksanakannya ITC di komplek candi Borobudur Magelang Jawa Tengah selama 3 hari 2 malam yang menyedot perhatian publik