KLATEN- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy meninjau penerapan riset dan teknologi pertanian berbasis data di Klaten, Sabtu (22/8/2026). Lokasinya berada di Research Center (RC) Yayasan Edufarmers International (Edufarmers) di Desa Jombor Kecamatan Ceper, Klaten.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Hamenang memaparkan potensi dan capaian sektor pertanian di Klaten yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Tengah.
“Klaten ini terkenal sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Tengah. Luas Baku Sawah (LBS) di Kabupaten Klaten mencapai 29.671 hektare,” ujar Hamenang Minggu (23/8/2026)
Guna menjaga stabilitas dan mendukung kemandirian pangan nasional, Pemkab Klaten mematok sejumlah target dan capaian kinerja pertanian untuk 2026. Di antaranya untuk target Luas Tambah Tanam (LTT) 99.401 hektare.
Sedangkan untuk target luas panen 67.303 hektare, dengan realisasi hingga Juli 2026 mencapai 43.847 hektare.
Sementara target produksi gabah kering giling (GKG) 378.426 ton, dengan realisasi hingga Juli 2026 mencapai 244.227 ton.
Selain berfokus pada peningkatkan kapasitas produksi, Pemkab Klaten juga mengembangkan potensi edukasi pertanian melalui kawasan edufarm atau wisata edukasi.
Keberadaan edufarm diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran interaktif sekaligus mengenalkan dunia pertanian modern kepada masyarakat luas.
Hamenang juga menegaskan pentingnya menjaga sinergi yang berkelanjutan antara pemerintah pusat dan daerah untuk terus memajukan sektor ini.
Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof. Rachmat Pambudy mengapresiasi model kolaborasi lintas sektor yang telah diterapkan di Kabupaten Klaten.
Pendekatan tersebut dinilai efektif karena mampu mengintegrasikan hasil riset akademis, partisipasi aktif sektor swasta serta pendampingan langsung bagi para petani di lapangan.
Kunjungan tersebut mempertegas pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta dan lembaga donor global.
Menurutnya, sinergi tersebut diperlukan untuk memperluas penerapan teknologi pertanian berbasis bukti (evidence-based solution).
Harapannya inovasi yang dikembangkan dapat memberikan dampak nyata dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang tangguh serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah.