• Sun. Jun 14th, 2026

Joglo Pos

Koran Umum Sahabat Masyarakat Klaten

Warga Desa Sidorejo Kabupaten Klaten Gelar Kirab Pager Banyu sebagai Upaya Pelestaran Alam dan Budaya

ByKaryana

Jun 14, 2026
Share :

KEMALANG-Kampung Seluman, sebuah dusun di lereng Gunung Merapi, kembali menggeliat dengan prosesi tahunan Kirab Pager Banyu . Berada di wilayah Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, acara ini menjadi wujud syukur sekaligus bentuk kepedulian masyarakat terhadap kelestarian air dan hutan di sekitar mereka.

Lantunan mantra ”Pring rajeg pring mageri banyu bening, ngadahi kang peparing angguripi kang anyanding” menggema di tengah rimbunnya hutan pinus kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Minggu (14/6/2026).

Diiringi ketukan alat musik tradisional, ratusan warga RT 16 RW 06 Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, berjalan kaki menyusuri jalan setapak sepanjang 1 Km.

​Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias mengarak dua gunungan utama.

Satu gunungan berisi bibit pohon endemik Merapi dan satu gunungan lagi berupa hasil bumi yang telah matang lengkap dengan jenang manggul.

Prosesi budaya dan konservasi ini dikenal sebagai Kirab Pager Banyu, yang tahun ini memasuki gelaran keenam sekaligus bertepatan dengan momen mapak Suran (menyambut bulan Suro).

Kirab kali ini mengusung tema “Merawat Tradisi, Menjaga Alam, Mengalirkan Kehidupan”.

Jalur kirab membentang dari Kali Butuh menuju Kali Putih.

Menembus kawasan bersejarah yang dikenal sebagai Kampung Siluman.

​Kampung Siluman berada di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dan hanya berjarak 5 Km dari puncak Gunung Merapi.

Kawasan seluas sekira 15 hektare itu dulunya merupakan permukiman padat yang hilang setelah tersapu dahsyatnya erupsi Merapi pada tahun 1930.

​Kini, sisa-sisa kehidupan masa lalu seperti jejak pekarangan dan area pemakaman kuno telah tertutup oleh hutan pinus lebat.

Ketua RT 16 Desa Sidorejo Jenarto mengungkapkan, keterikatan emosional dan ekonomi warga dengan kawasan ini sangat kuat.

​”Warga kami 90 persen sangat bergantung pada Kampung Siluman untuk pakan ternak dan mencari rumput. Itulah mengapa wilayah ini dijaga betul kelestariannya oleh masyarakat,” ujar Jenarto.

​Mantra yang diucapkan selama kirab pun mengandung makna mendalam.

Secara filosofis, mantra tersebut membawa pesan ekologis yang kuat.

Menanam bambu (pring) dan pohon endemik berfungsi sebagai pagar alami untuk menangkap, mengikat dan menyimpan air demi menghidupi generasi saat ini dan masa depan.

​Aksi nyata dari kirab ini diwujudkan melalui penanaman bibit pohon endemik di dekat sumber mata air Kali Putih.

Berkolaborasi dengan petugas TNGM hingga berbagai komunitas.

Sebanyak 17 bibit pohon yang terdiri dari jenis pasang, sarangan, kemuning dan dadap ditanam di kawasan tersebut.

​Jenarto menegaskan, pemilihan jenis pohon didasarkan pada sifat tanaman yang efektif mengikat air dan keberadaannya yang mulai jarang di kawasan hulu.

Selain itu, poin utama gerakan tahun ini adalah konsistensi perawatan pasca-tanam.

“Seminggu sebelum kirab (H-7), warga telah naik ke gunung untuk merawat  tanaman yang ditanam pada tahun-tahun sebelumnya. Berkat perawatan rutin, sekitar 70 persen dari ribuan pohon yang ditanam sejak dua tahun lalu berhasil tumbuh dengan baik,” jelasnya.

​Dampak positif dari konsistensi kirab selama enam tahun ini mulai terlihat pada anak-anak muda setempat.

Mereka kini tidak lagi asing dengan hutan, mulai mengenali jenis pohon dan memahami pentingnya menjaga hulu karena sumber air mengalir dari sana.

Acara kirab tersebut turut dihadiri Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo.

Pemkab memberikan apresiasi tinggi terhadap swadaya masyarakat RT 16 yang konsisten menjaga benteng pertahanan air Klaten di sisi hulu.

​”Klaten ini terkenal dengan 1001 mata air. Kita harus memastikan debit airnya tidak menyusut, bahkan kalau bisa bertambah. Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya jualan objek wisata, tapi sekaligus memastikan daerah tangkapan air hulu ini terjaga kelestariannya,” beber Bupati Hamenang.

​Mas Bupati memandang pentingnya gagasan seduluran atau ikatan persaudaraan ekologis antara masyarakat wilayah hulu (Kemalang), wilayah tengah hingga hilir yang memanfaatkan air untuk sektor konsumsi maupun wisata air

Pemkab Klaten berencana menduplikasi pola kolaborasi yang melibatkan multipihak. Termasuk korporasi dan para pengelola wisata air di hilir.

Tujuannya agar para pemanfaat air di bawah memiliki kewajiban moral  untuk mendukung kegiatan konservasi yang dilakukan oleh warga Sidorejo tersebut.

​”Melalui sinergi hulu-hilir itu, diharapkan sirkulasi ekonomi pariwisata berjalan beriringan dengan lestarinya alam Merapi. Demi sumber mata air di Klaten tetap terjaga dan melimpah,” ucapnya. (kry)

Kirim berita :
Hubungi Redaksi ?
Hallo, Selamat datang di Redaksi Joglo Pos !
Ada berita yang ingin disampaikan ?
Silahkan ditulis lengkap kejadian peristiwa beserta fotonya !
Menerima update berita ? OK No thanks