• Fri. Aug 14th, 2026

Joglo Pos

Koran Umum Sahabat Masyarakat Klaten

Dongkrak Potensi Lokal, APDESI Serukan Hilirisasi Desa

ByMuslih Budi

Aug 14, 2026
Share :

KLATEN– Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) mendorong desa-desa untuk lebih fokus mengembangkan potensi lokal melalui hilirisasi guna memperkuat perekonomian desa sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketua Umum APDESI, Junaedi Mulyono, mengatakan, dorongan tersebut salah satunya didasari oleh pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya saat mengikuti Program Pelatihan Kader Desa Indonesia di Tiongkok.

“Me­wakili teman-teman di organisasi APDESI, kemarin saya diberi kepercayaan dari Kementerian Desa. Kementerian Desa bekerja sama dengan Kementerian Desa Tiongkok untuk pengiriman pelatihan revitalisasi desa dan pertanian modern,” ujar Junaedi, Sabtu (8/8/2026).

Sebanyak 25 kepala desa mengikuti program pelatihan tersebut di Tiongkok pada 14 Juli hingga 4 Agustus 2026. Kegiatan itu merupakan undangan dari Kementerian Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok.

Program diselenggarakan oleh Pusat Layanan Kerja Sama Internasional, Kementerian Pertanian dan Urusan Perdesaan Republik Rakyat Tiongkok. Pelaksanaannya dikoordinasikan bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dengan Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta. Seluruh rangkaian kegiatan dibiayai oleh Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok.

Kades Ponggok, H Jhunaedi Mulyono, SH saat berada di Tiongkok.

Selama 21 hari berada di Tiongkok, para kepala desa mendapatkan materi mengenai revitalisasi perdesaan, pertanian modern, hingga strategi pengembangan ekonomi desa.

“Di sana kami mendapatkan banyak ilmu. Dua hari kuliah materi dan dua hari di lapangan. Banyak ilmu yang kita dapatkan dari Tiongkok, terutama bagaimana desa menjadi pendorong ekonomi,” kata Junaedi.

Menurutnya, salah satu hal penting yang dipelajari adalah bagaimana potensi dan perekonomian desa dikembangkan secara terintegrasi sehingga mampu menjadi pengungkit perekonomian nasional.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga mempelajari profil dan kebijakan pemerintah Tiongkok dalam pembangunan desa, termasuk bagaimana hasil produksi desa dikelola melalui proses hilirisasi.

Junaedi mencontohkan sejumlah desa di Tiongkok yang mengembangkan potensi unggulan masing-masing. Ada desa yang fokus pada komoditas kopi, mulai dari proses penanaman, penerapan teknologi modern, tata kelola produksi, hilirisasi, hingga pemasaran melalui perdagangan elektronik atau e-commerce.

“Desa-desa di Tiongkok banyak yang fokus pada potensinya masing-masing. Misalnya ada desa kopi. Mulai dari penanaman sampai teknologi modern, tata kelola, hilirisasi hingga e-commerce dilakukan dengan baik. Negara juga hadir di situ. Selain desa kopi, ada juga desa teh dan lainnya,” jelasnya.

Dari pengalaman tersebut, Junaedi menilai hilirisasi menjadi salah satu langkah penting yang perlu diterapkan desa-desa di Indonesia. Terlebih, desa memiliki beragam potensi sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

“Ini yang perlu kita lakukan. Ternyata hilirisasi itu sangat dibutuhkan sekali di desa. Kita menyadari bahwa potensi itu banyak sekali di desa dan itu sudah disadari oleh pemerintah Tiongkok sejak 40 tahun yang lalu,” ujarnya.

Ia menilai pembangunan yang berorientasi pada penguatan ekonomi desa telah memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan ekonomi Tiongkok. Menurutnya, produk-produk yang dihasilkan juga mampu memenuhi standar kualitas yang tinggi.

“Sekarang Tiongkok membuktikan bahwa pembangunan yang fokus di desa atau pendorongan ekonomi desa itu ternyata terbukti. Saat ini di Tiongkok nol kemiskinan. Produk-produk di sana juga memiliki kualitas dan standar yang tinggi,” ungkap Junaedi.

Berbekal pengalaman tersebut, APDESI berharap pemerintah desa di Indonesia mulai mengembangkan potensi unggulan masing-masing dan tidak hanya bergantung pada dana desa.

Junaedi mendorong kepala desa agar mampu menggerakkan sumber daya lokal, membangun ekosistem usaha, serta mendorong hilirisasi agar hasil produksi desa memiliki nilai tambah dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Dengan ilmu yang kami dapatkan, saya berharap ke depan desa-desa di Indonesia bisa mengejar ketertinggalan tersebut. Jangan hanya terpaku dengan dana desa, tetapi harus menggerakkan potensi lokal desa guna mendongkrak perekonomian. Semangat tersebut kita wujudkan melalui gerakan “BangunDesaBangunIndonesia dan kemendespdt,” pungkasnya. (bud)

Kirim berita :
Hubungi Redaksi ?
Hallo, Selamat datang di Redaksi Joglo Pos !
Ada berita yang ingin disampaikan ?
Silahkan ditulis lengkap kejadian peristiwa beserta fotonya !
Menerima update berita ? OK No thanks