PRAMBANAN-Decak kagum mewarnai jalannya dari kegiatan bersepeda bertajuk Social Culture Ride yang merupakan bagian dari rangkaian Klaten International Cycling Festival KLIC Fest 2026.
Rombongan pesepeda, termasuk Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo bersama para duta besar Belanda dan Jerman serta para delegasi internasional singgah di Balai Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan.
Para delegasi internasional disuguhkan proses pembuatan kain batik unik bermotif abstrak.
Istimewanya, mahakarya bernilai seni tinggi itu lahir dari tangan-tangan kreatif 10 perajin penyandang disabilitas (fisik dan intelektual).
Mereka tergabung dari Batik Ciprat Tombo Ati.
Apresiasi tinggi datang dari pendamping dan para perajin batik ciprat yang dikunjungi rombongan pesepeda telah menghadirkan kebahagiaan luar biasa.
Terlebih lagi dari delegasi internasional itu sempat menjajal memproduksi dan membeli batik ciprat.
“Kami mengucapkan terima kasih sekali atas apresiasi tertinggi ini kepada seluruh panitia, pemerintah desa, dan Pemkab Klaten. Kami diberikan kesempatan luar biasa untuk memperlihatkan karya teman-teman disabilitas di Kemudo ini,” ujar Pendamping Perajin Batik Ciprat, Reni Diah Susanti, ditemui di sela-sela acara.
Reni mengungkapkan, dikunjungi dan dilihat langsung saat berproses berkarya sudah membuat para perajin jauh lebih percaya diri.
Terlebih lagi, dalam kunjungan tersebut, beberapa produk batik ciprat langsung laku terjual dan dibayar tunai di tempat.
“Artinya, apa yang mereka bikin langsung diapresiasi. Tadi langsung dibuat, langsung dibayar. Kami benar-benar matur nuwun diberikan kesempatan untuk tampil hari ini,” tambahnya
Seperti diketahui tahun ini menandai tahun kelima bagi perajin Batik Ciprat Tombo Ati berproses.
Reni menceritakan bahwa perjalanan ini tidak mudah. Awalnya ada 30 anggota, namun kini tersisa 10 perajin yang benar-benar eksis dan mandiri.
“Faktor berkurangnya karena kondisi sosialisasi mereka, serta butuh support besar dari lingkungan dan keluarga. Dulu, kalau tidak diingatkan atau tidak diantar keluarga, mereka tidak tahu hari untuk ke sini. Sekarang, 10 orang yang bertahan ini alhamdulillah sudah mapan dan konsisten,” jelas Reni.
Keberlanjutan usaha ini kian cerah setelah mendapat dukungan penuh dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI.
Mengingat mewajibkan karyawannya mengenakan seragam batik ciprat karya penyandang disabilitas. Kebijakan tersebut mendongkrak volume produksi secara signifikan.
“Pemasaran kami kini sudah hampir ke seluruh Indonesia, mulai dari Sulawesi, Sumatera, hingga Jawa karena banyak pesanan dari kementerian. Bahkan sudah ada yang dibawa sebagai oleh-oleh ke Belanda oleh pengunjung yang datang ke sini,” kata Reni.
Untuk harga, selembar kain batik ciprat berukuran 1,15 meter x 2,10 meter berkisar Rp 120 ribu-Rp 200 ribu, cukup untuk satu potong baju dewasa.
Selain kain, mereka juga memproduksi produk turunan seperti topi batik yang dijual seharga Rp 50 ribu-Rp 60 ribu.
Salah seorang perajin batik ciprat, Novi Daniar, 38, menjelaskan, proses pembuatan batik ciprat ini murni mengandalkan teknik manual.
Menggunakan kuas yang dikibas atau dicipratkan di atas kain menggunakan malam panas. Termasuk memanfaatkan limbah galvalum untuk membentuk motif tambahan seperti bunga.
“Kekhasannya itu limited edition, tidak ada satu pun motif yang sama persis. Saya sendiri kalau disuruh membuat dua kain yang sama pasti tidak bisa, karena jatuhnya cipratan malam itu pasti berbeda. Kalau warna dan kemiripan motif mungkin bisa dikejar mendekati, tapi kalau sama persis tidak bisa karena kami tidak pakai cetakan,” jelas Novi.
Pada kelompok, pembagian tugas sudah tertata sangat rapi dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing perajin.
Novi berfokus pada pembuatan motif, sedangkan pencampuran warna dan pewarnaan dilakukan oleh perajin lainnya.
“Mampu memproduksi 10-15 potong kain per hari. Jadwal produksi rutin dilakukan setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Namun, jika ada pesanan siap menggenjot produksi setiap hari,” ucapnya.