KLATEN- Duta Besar Belanda Marc Gerritsen dan Duta Besar Jerman HE Ralf Beste membagikan pengalaman menumbuhkan budaya sepeda di negaranya.
Hal itu disampaikan pada hari ketiga The 35th International Cycling History Conference yang digelar di Pendapa Pemkab Klaten, Rabu, 20 Mei 2026. Acara dihadiri Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo.
Penutupan ICHC juga menghadirkan narasumber Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan, Kementerian Perhubungan Yusuf Nugroho dan Guru Besar Fisipol UGM Prof Dr Amalinda Savorani SIP MA.
Dubes Belanda Marc Gerritsen mengungkapkan, budaya bersepeda sangat bagus bagi kesehatan, mengurangi polusi, hemat energi dan mengurangi kemacetan.
Pada tahun 1960-an, jalanan Belanda dipenuhi mobil hingga sering terjadi kemacetan dan polusi.
Namun di tahun 2000-an, jalanan menjadi lengang karena lebih banyak yang menggunakan sepeda. Ada parkir sepeda di tepi jalan.
Bila tahun 1970-an, Pemerintah Belanda lebih banyak membangun infrastruktur mobil, tahun 2020-an, pembangunan diarahkan untuk mendukung transpostasi hemat energi.
Dia menampilan foto-foto yang memperlihatkan kondisi kota yang dipenuhi sepeda, perahu di sungai-sungai, dan beton di sekitar sungai dan jalan yang diubah menjadi taman.
Pemerintah mendukung dengan membuat kebijakan pembatasan kecepatan kendaraan dari 50 km/jam menjadi 30 km/jam.
”Apakah Indonesia negara sepeda? Yes,” katanya sambil menampilkan pedagang kaki lima yang menggunakan sepeda.
Dia juga memperlihatkan adanya jalur sepeda di Sumba, Jakarta, IKN, dan lainnya. Dia berharap, di Klaten juga akan tumbuh budaya bersepeda, komunitas sepeda dan budaya Bike to Work.
Bupati Hamenang menanyakan kebijakan apa yang dilakukan Pemerintah Belanda yang membuat masyarakat menyukai sepeda, dan bisa diterapkan di Klaten.
”Kami ingin mengadaptasi budaya sepeda, namun cuaca di Klaten cenderung panas Bagaimana agar masyarakat bila akan belanja tidak memerlukan kendaraan (bermotor),” ujar Bupati.
Menanggapi itu, Marc Gerritsen mengatakan bahwa yang terpenting adalah merubah perilaku, bagaimana agar mereka membeli sepeda.
”Pemerintah Belanda menyediakan Rp 10 miliar untuk subsidi membeli sepeda, sebagai stimulan agar orang mau bersepeda dalam kehidupan sehari-hari,” ujar dia.
Sepeda digunakan untuk olahraga tak hanya kecepatan tapi juga less sporty, less energy, more passion dan most savety.
Mendengar penjelasan itu, Bupati Hamenang mengatakan tidak punya yang untuk subsidi sepeda, namun punya semangat untuk menumbuhkan budaya sepeda.
”Memberikan subsidi untuk BBM atau sepeda, itu pilihan. Untuk mempromosikan bersepeda, pemerintah bisa meningkatkan infrastruktur sepeda,” ujar Marx Gerritsen.
Bila Pemkab Klaten ingin transfer teknologi melalui sister city dengan Belanda, ada Dutch Cycling Embassy (DCE) yang bisa lebih spesifik membantu.
DCE merupakan private organisasi bukan lembaga nirlaba, yang membantu menumbuhkan budaya sepeda.
”Jakarta bisa membuat jalur busway, itu bisa terlaksana karena ada kemauan. Kolombia punya masalah sama dengan Klaten menghadapi dominasi mobil dan motor,” imbuh dia.
Duta Besar Jerman HE Ralf Beste mengatakan, di negaranya ada komunitas sepeda anak-anak, yakni Bicycle Centre di Berlin.
”Insentif dari pemerintah untuk menumbuhkan budaya bersepeda bukan hanya tentang uang, tapi bisa mewujudkan tempat untuk bersepeda dan konsisten,” ujar dia.
Duta besar yang selalu bersepeda menuju kantornya itu mengatakan bahwa di Jakarta, bersepeda lebih menguntungkan karena jalanan macet. Sepeda juga bisa berkontribusi pada wisata.
”Dengan senang hati, kami dari Jerman dan Belanda akan berbagi pengalaman untuk mendorong budaya bersepeda di Indonesia, dengan mengembangkan infrastruktur ramah sepeda,” katanya.